Lompat ke konten
Beranda » Blog » Menanam Wakaf, Menuai Pahala yang Abadi

Menanam Wakaf, Menuai Pahala yang Abadi

 

Wakaf sering dipahami sebagai amalan besar yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki tanah luas atau harta berlimpah. Padahal sejatinya, wakaf bukan tentang seberapa besar yang diberikan, melainkan tentang seberapa lama manfaat itu dirasakan. Dalam Islam, wakaf adalah bentuk kebaikan yang dirancang untuk terus hidup, bahkan ketika pemberinya telah tiada.

Sumber gambar : unplash

Di Indonesia, banyak pesantren besar yang berkembang oleh dana wakaf. Aset yang diwakafkan tidak dimiliki secara pribadi, melainkan menjadi milik umat dan dikelola untuk keberlangsungan pendidikan. Dari tanah wakaf berdiri ruang-ruang belajar. Dari dana wakaf lahir fasilitas yang menunjang ribuan santri menuntut ilmu. Semua itu menjadi bukti bahwa wakaf bukan sekadar teori, tetapi nyata manfaatnya. Keistimewaan wakaf terletak pada keberlanjutannya.

Di era modern, wakaf tidak lagi terbatas pada tanah atau bangunan, tetapi bisa juga melalui wakaf uang. Dana yang terkumpul dapat dikelola secara produktif, kemudian hasilnya digunakan untuk pendidikan, beasiswa, pembangunan fasilitas, hingga program sosial lainnya. Nominalnya mungkin terasa sederhana, namun ketika dilakukan bersama, ia menjadi kekuatan besar.

Islam mengajarkan bahwa kebaikan tidak harus menunggu sempurna. Tidak harus menunggu kaya. Menanam wakaf berarti memilih untuk meninggalkan jejak yang tak hilang oleh waktu. Sebuah jejak yang tetap berbicara melalui bangunan yang berdiri, melalui ilmu yang diajarkan, dan melalui doa-doa yang dipanjatkan.

Mari mulai dari apa yang kita mampu. Karena bisa jadi, dari satu wakaf yang kita tanam hari ini, lahir cahaya kebaikan yang menerangi banyak kehidupan di masa depan. Semoga setiap yang kita titipkan menjadi pahala yang abadi dan keberkahan yang terus mengalir. Aamiin.

Artikel untuk wakaf

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *