Kehadiran buah hati adalah anugerah besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bersamaan dengan rasa syukur itu, ayah bunda tentu ingin memberikan yang terbaik untuk si kecil, termasuk melaksanakan ibadah aqiqah. Namun, penting untuk diingat bahwa dalam Islam, setiap ibadah memiliki urutan prioritas yang perlu diperhatikan.

Aqiqah memang dianjurkan sebagai bentuk syukur atas kelahiran anak. Namun, aqiqah hukumnya sunnah, bukan kewajiban. Artinya, pelaksanaannya disesuaikan dengan kemampuan orang tua. Islam tidak memberatkan, justru mengajarkan kemudahan dan kebijaksanaan dalam menjalani setiap perintah.
Di sisi lain, memenuhi kebutuhan dasar si kecil adalah kewajiban utama ayah bunda. Kebutuhan seperti ASI atau susu, makanan bergizi, kesehatan, pakaian yang layak, serta lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang harus menjadi prioritas. Kebutuhan-kebutuhan inilah yang menunjang tumbuh kembang anak secara optimal, baik fisik maupun emosional.
Jika kondisi keuangan belum memungkinkan, tidak perlu memaksakan diri untuk melaksanakan aqiqah. Memenuhi kebutuhan si kecil terlebih dahulu justru bernilai ibadah yang besar di sisi Allah. Setiap nafkah yang dikeluarkan dengan niat ikhlas untuk keluarga dicatat sebagai pahala. Ketika Allah memberikan kelapangan rezeki, aqiqah bisa dilaksanakan di kemudian hari. Yang terpenting adalah niat baik dan kesungguhan orang tua dalam menjalankan amanah sebagai pendidik dan penanggung jawab anak.
Islam mengajarkan keseimbangan, bukan perlombaan. Tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain. Setiap keluarga memiliki kondisi dan ujian masing-masing. Fokuslah pada yang paling penting dan mendesak, lalu serahkan sisanya kepada Allah. Semoga ayah bunda senantiasa diberi kelapangan hati, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, serta keberkahan dalam mendidik amanah kecil yang Allah titipkan. Aamiin.
Penulis: Indra Rizki